ini bukan jeritan hati. ini juga bukan hasil observasi. tapi ini kreasi emosi

20101111

PERCAKAPAN BOCAH DAN LINTAH MERAH

bocah kecil nan lucu mendekati lintah merah yang sedang bersantai sambil kipas-kipas uang hasil dosa:

 bocah: 'hai lintah merah,,,makin besar saja perutmu?
              apakah makanmu banyak?? uangmu juga banyak sepertinya.
              padahal kerjamu hanya duduk saja,dan sesekali menggertak orang",
lintah: "diam kau bocah!!tau apa kau,,
              minum saja susumu,,lalu pergi tidur"
 bocah: "lintah kenapa kau sangat merah?? apalagi kalo lagi marah.
              kenapa kau lebih jahat dari beruang lapar?padahal kau sama-sama
              beruang apalagi kau lebih kecil dari binatang berbulu itu?"
lintah: "mau tau saja kau ini,,dengar ya aku lebih hebat dari beruang berbulu
              karna uangku lebih banyak dan harganya mahal,mengerti kau?"
              aku marah kalau para orang miskin dan bodoh itu telat bayar hutang 
              dan bunganya,,"
 bocah: "lintah uang dari mana itu??apakah kau tidak takut dosa?
               aku takut dosa maka itu aku tidak mau berbohong atau mencuri..
               karna ibuku bilang berbohong dan mencuri itu dosa,,"
lintah: "banyak bacot kau bocah,,mau ku bacok kau? ganggu aku saja.,
              hehhh dosa itu nanti dineraka,itu urusanku dengan Tuhan,,tak usahlah 
              kau mau banyak tau,belum cukup umur kau"
bocah: "lintah aku punya gulali dari ibu,,dan layang-layang buatan ayah,karna
             aku juara kelas,,kalau kau suka kau boleh ambil dariku tanpa harus 
             susah payah jadi juara kelas,,mau??"
lintah: "benarkah?buat aku semua itu?iya,,iya,, aku mau.hehehehe,,,,
              kenapa kau baik padaku?padahal aku sudah jahat pada orangtua mu?
              pasti ada maunya ya?hayoo ngaku saja"
bocah: "iya !!aku tukar semua itu dengan senyum orang tuaku yang kau ambil 
              kemarin,,mereka sangat murung dan ketakutan setelah kedatanganmu
              boleh kuminta kembali senyum mereka??aku tak tahan melihat mereka 
              murung,,dan itu makanan kesukaanku dan barang kesayanganku ayah
              sendiri yang buatkan itu untukku saat aku jadi juara kelas"?
lintah: "hahaha kau sama bodohnya dengan orang tuamu,,harusnya kau jaga 
              apa yang jadi kesayangan mu dan kepunyaanmu sekarang,,karna jika 
              semua itu hilang belum tentu bisa kau dapatkan lagi,orang tuamu 
              berhutang padaku,,mereka tak dapat kembalikan hutangnya beserta 
              bunga yang sudah ditentukan..jadi aku gertak mereka.kalao lusa masih 
              juga tak dapat membayar,,aku akan membawamu pergi dan akan 
              kujual ke pelacuran,itulah yang buat mereka murung,aku tidak mencuri
              senyum mereka".
bocah: "apa aku semahal itu? sampai semua hutang orang tuaku yang sebegitu 
              sebegitu banyak hanya kau tukar dengan seorang aku ini"?.
lintah: "bukan itu !!masalahnya uanglah yang terpenting buatku,jika uangku 
              tak kenbali beserta bunganya aku akan marah dan akan sangat 
              menyakiti,,karna uangpun orangtuamu tak punya maka hal yang 
              paling ia sayang dan hanya satu-satunya aku ambil untuk kepuasan
              hatiku,,paham kau?".
bocah: "ouwhhh lintah kau benar-benar orang yang sangat jahat ya,,apa kau 
              dulu sering dijahati orang,,yang membuatmu jadi sebegini jahat?",
lintah: "iya aku dendam pada orang-orang berduit itu,ibuku meninggal 
              dirumah sakit karna tidak bisa operasi jantung nya,karna kami tidak 
              punya uang,,ayahku maninggal karna dituduh mencuri ,dipukuli warga
             hingga meninggal,,jadilah aku sebatangkara,,dan aku tumbuh 
             berselimut dendam dan angkara.aku benci uang,,aku dendam pada
             warga,,dan jadilah aku seperti ini,,".

lintah merah menangis dipangkuan sibocah,,dan sibocah menghapus airmata 
lintah merah,,lalu beranjak pergi,,dan lintah sudah berjanji pada sibocah tidak akan ambil senyum orang tuanya lagi,,dan hutang pun terlunaskan,
ketulusan hati mengalahkan segalanya,
            

0 comments:

Post a Comment